Catatan Lanjutan

Catatan lanjutan.
Gelap ini bercerita. Emosi yang ditahan meletup. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Ya.. letupan emosi sebuah lelaki yang hanya berasap beberapa menit saja. Sebab gejolak frekuensi wifi yang tiap hari ditatapnya.
Kali ini lelaki ini menyadari letupannya pada tempatnya. Iya, sedikit sopan pada kondisi. Ini benar-benar bergetar di sekujur tubuh. Mempengaruhi pola pikir seperti gangguan oleh fiber optic yang tiap hari diliatnya. Sebagian lelaki ini menahan letupannya namun sebagian lagi ingin ledakan. Mungkin ini akan menjadi berita.
Tetap saja lelaki ini belum mengetahui hakikat ledakan yang diinginkannya. Mungkin kepalanya lapar dan lelah.

Menyesali sesal, bagaimana ?

Hai pembaca yang entah darimana. Aku sedang ingin menulis beberapa catatan untuk waktu ini. Sepertinya ini akan sedikit berlebih kedengarannya tapi sudahlah aku tetap akan menulis.
Waktu ini penuh catatan. Catatan pelajaran banyak hal. Bersyukur, menerima, ego, naif. Kebersamaan yang saling melawan dibeberapa menit, saling tersenyum dibeberapa detik. Waktu ini sebuah lelaki setengah jaman, aku. Menyadari sebuah pengorbanan dan setia. Mungkin ini masih satu family dengan sabar, aku yakin setelah menyadari ketika kehilangan itu. Ups, lebih tepatnya hanya sebentar yang seolah. Ah.. sepertinya ini hanya kekhawatiran saja.

Idealisme yang berlebih, kalau kata pasangan pemuda bercinta saat ini akan menjadi "protectif". Korelasinya dimana ? Semua ingin dalam sebuah idealisme bermuara pada batasan-batasan yang tak mau keluar dari idealisme ini. ya.. mungkin idealisme yang dipunyai lelaki ini sejalan dengan asas dasar spiritual yang didapatkannya. Begitu kuat dan angkuh. Begitu tegak dan congkak. Tak mau condong dengan angin. Entah setan mana yang selalu menopang idealisme macam sup sayur campur-campur. Aku yakin penganut abdi rawon setan juga akan jijik melihatnya saja. Tapi tetap saja lelaki ini membawanya kapanpun. Aneh dan tolol sepertinya tak bisa dibedakan untuk beberapa kapan.

Tertimpa durian jatuh. Sepertinya bukan durian yang dinikmati lelaki ini padahal perutnya belum terisi meski tidak lapar setidaknya disimpan untuk makan malam. Melainkan tidakan durian yang mengenai batasan-batasan idealisme sup sayur campur-campur yang dibawanya, sebuah lelaki enggan menyimpanya. Penulis pun masih bingung mengatakan ini aneh atau tolol. Padahal penulis yakin hati sebuah lelaki ingin menggerakkan tangannya yang dibatasi idealisme sup sayur campur-campur. Separuh tubuhku kesemutan tiba-tiba.

Seperti pesan akhir dari khutbah-khutbah penyampai ayat yang sering sebuah lelaki dengar. Bersyukur. Kata dan kalimat ini sering didengar olehnya juga aku dan penulis. Namun tak berbekas sepertinya. Apa mungkin frekuensi spektrum suara tak dapat diterima pendengaran mereka. Penulis juga masih bingung, sebenarnya pendengarannya ada di telinga atau di hati mereka.

Akhirnya penulis menyadari dengan penuh sedih. Bersyukur melemahkan segalanya. Bersyukur adalah momentum yang meledakkan dinding-dinding keras, merobohkan tiang-tiang tinggi. Iqro' anak muda, tiap benda mempunyai prosesnya masing-masing.

Sebuah Catatan [bagian 1]

Sebuah Catatan.

Anggap saja ini curhat. Baris kedua setelah aku bercerita dengan Tuhanku untuk sebuah gelombang yang selalu dinamik. Masih pada sebuah keyakinan bahwa akan ada sebuah jawaban dari tiap pertanyaan.
Aku memilih untuk menikmati sebuah kejutan masa depan, memilih untuk melewati labirin-labirin yang entah sampai dimana. Menyimpan paradigma-paradigma yang ku susun dengan sadar.
Memperbaiki tiap kesalahan dari sebuah pilihan. Mereka bilang mengalir saja, sedang aku manusia yang begitu saja mudah. Mereka bilang ikuti saja, sedang aku tipe membaca.
Saat dimana aku mendapati sebuah ruang, seperti paradigma yang tersimpan. Mereka ingin dibaca kembali atau hanya sebuah godaan ? Mereka bilang ini jawaban, sedang aku masih membaca.
Masih pada sebuah ruang. Untuk sebuah putih yang terbaca ini menjadi. Sepertinya aku akan larut pada sebuah surga tempurung manusia, Aku harus kembali.

Kekerasan Seksual akibat kurang pendidikan akhlak

Selasa 06 Mei 2014, sudah lebih dari 3 kali aku melihat tayangan TV yang memberitakan kekerasan seksual pada anak atau mereka bilang fedofil anak. Melalui tulisan ini aku turut sedih dengan kondisi masyarakat di NKRI ini. Melalui tulisan ini aku kembali sedih dengan cobaan di NKRI tercinta ini. Melalui tulisan ini aku semakin sedih dengan abu-abu hukum di Indonesia ini.
Melalui tulisan ini aku turut menanggapi permasalahan tersebut meski sudah banyak orang-orang lebih dari saya telah menanggapi ini di berbagai stasiun tv. Ada permasalah mendasar (menurutku) yang aku amati dari kasus pedofil anak. Adalah moral, etika, akhlak, dan budi pekerti yang kurang tepat. Dimana? Yakni pada penerapan.
Kemudian apa yang kurang tepat dari penerapan ? Adalah landasan dari penerapan itu. Yakni pedoman, “aturan”, atau rule. Pedoman yang bagaimana? Sesuai dengan UUD 1945 (versi amandemen) pasal 31 ayat 3 yang berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” pasal 31 ayat 5 yang berbunyi “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”.
Pertanyaannya adalah apakah pedoman dasar Indonesia untuk pendidikan yang telah kita baca di atas benar-benar telah dilaksanakan dalam sebuah langkah/perbuatan/misi untuk mencapainya ? Saya yakin tidak. Mengapa? Pendidikan kita telah disibukkan untuk mencetak generasi yang cerdas tapi tidak dengan akhlak mulia (baik). Guru-guru Indonesia banyak yang disibukkan dengan bagaimana mencetak murid yang bisa lulus UNAS dengan nilai terbaik. Murid-murid sekolah Indonesia banyak yang disibukkan dengan bagaimana upaya untuk bisa lulus UNAS.
Kisanak ndamar, bukankah mata pelajaran agama sudah diterapkan dalam sekolah-sekolah? Iya, benar. Tapi dengan sadar atau tidak, mata pelajaran umum lebih utama dari yang utama “digalakkan” dari pendidikan akhlak (agama). Bagaimana dengan PPKN? Sama saja. Mata pelajaran Agama dan PPKN adalah pelengkap. Silahkan melakukan survey untuk pelajaran Agama dan PPKN, aku yakin banyak dari murid yang akan mengatakan “gak penting itu (Agama dan PPKN), mata pelajaran UNAS yang lebih penting”.
Maksudku adalah Bangsa Indonesia belum dapat menerapkan isi dari Undang-Undang Dasar 1945 yang telah kita dalam sebuah penerapan. Tidak ada pedoman mendasar untuk sebuah pencapaian generasi yang berakhlak. Mungkin pedoman untuk mencapai generasi yang cerdas telah dan sedang dicapai dengan adanya UNAS. Banyangkan untuk tingkat sekolah dasar (SD) saja anak sudah “digembleng” untuk dapat menguasai mata pelajaran syarat lulus UNAS. Bagaimana dengan sekolah yang berlatar belakang agama ? Sama saja. Karena aturan UNAS berlaku untuk semua sekolah.
Anak tingkat dasar (SD) adalah masa dimana sebuah generasi dibentuk dan ditata. Pendidikan adalah media untuk mencapai itu. Semua agama mengajarkan kebaikan, akhlak mulia, budi pekerti dan sejenisnya. Indonesia sudah punya media cetak berupa pendidikan, kemudian sebuah akhlak mulia (agama) yang dijadikan sebagai bahan utama untuk menjadi dasar dari sebuah bentuk (generasi) yang diinginkan. Yang kemudian tingkat selanjutnya bertugas untuk mengembangkan bentuk (generasi) dengan tepat menjaga dasar dari bentuk tersebut untuk menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.
Semua ini pun juga tidak luput dari sebuah hukum dalam penindakan pelaku amoral yakni kasus pedofil anak. Kembali lagi bahwa Indonesia masih abu-abu, yakni dalam hukum. Indonesia masih belum mempunyai yang jelas dalam penanganan kasus kekerasan seksual pada anak. Indoensia belum mempunyai tindakan hukuman yang bersifat jera (secara fisik dan mental) pada pelaku kejahatan. Indonesia masih mengandalkan jeruji besi yang masih bisa dipotong dengan remisi, masih bisa dikadalin dengan membawa peralatan elektronik. Itu penjara jeruji besi atau kos-kosan?
Indonesia telah ditampar, kita telah ditampar. Melalui kasus kekerasan seksual pada anak ini, Indonesia dan kita telah diingatkan bahwa Indonesia adalah negara labil, Indonesia sudah waktunya memperbaiki lampu yang semakin membuat Indonesia redup, abu-abu.
Semoga bermanfaat, semoga kita menjadi generasi yang cerdas dalam hati juga cerdas dalam pikiran

Sehari tanpa internet - Cinta yang tak kunjung datang


Sehari tanpa internet. Kalimat ini sangat cocok jika dipertanyakan untuk para pengguna internet setiap detiknya. Mulai penggunaan internet hanya sekedar untuk chating, ber-sosmed ria, berkirim email, sampai pengguna internet untuk kalangan pekerja dan pebisnis yang digunakan untuk transfer uang, penggunaan virtual office juga penggunaan sebuah server perusahaan.
Bisa dibayangkan seorang individu yang setiap harinya mengkonsumsi nasi sebagai kebutuhan pokok tanpa ada substitusi lain seketika itu kebutuhan nasi tidak terpenuhi. Bisa dibayangkan jika untuk minum saja manusia membutuhkan bandwitch internet untuk mentransfer data berupa perintah mengangkat gelas berisi air dan mendekatkan ke bibir yang tiba-tiba terputus (internet down). Mata hanya melotot melihat gelas begitu juga bibir hanya melongo menanti bibir gelas untuk sebuah kecupan kesegaran. Seperti cinta yang tak kunjung datang.
Disini saya mencoba menulis Akibat-Sebab jika satu hari tanpa internet untuk pengguna internet tiap detiknya. Lantas apa akibatnya ? Hambar!, bagai sayur tanpa garam. Kalimat klasik yang mungkin paling mudah dicerna. Kenapa hambar ? Karena sebagian kebutuhan telah hilang. Bayangkan saja jika setiap harinya, setiap jamnya, setiap menitnya, dan setiap detiknya kita menggunakan internet untuk sebuah informasi. Tiap pagi dengan rutinitas membaca koran elektronik yang diakses dari portal-portal berita yang tiba-tiba tidak bisa kita lakukan karena internet down (sehari tanpa internet). Separuh aku. Judul band Noah pun saya pikir cocok untuk sebuah pertanyaan sehari tanpa internet.
Kenapa bisa separuh aku ? Internet adalah sebuah “virus” yang sudah menyatu dengan penggunanya. Seperti kesehatan yang menjadi kesatuan dengan kita, jika kita sakit (tidak ada kesehatan) bukankah kita telah menjadi separuh aku ?. Seperti kesehatan, internet telah menyatu dengan penggunanya. Jika saya boleh lebay, seperti dalam ajaran Hindu dan Budha, yakni penganut “ajaran internet” telah moksha (melebur menjadi satu) dengan penggunanya.
Lantas mengapa internet telah menjadi sebuah kebutuhan ? (saya pikir) ini karena sebuah derutinisasi (perulangan/rutinitas). Awalnya internet hanya digunakan bbm-an, whatsup-an, browsing yang lantas merembet ke kebutuhan-kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan internet. Dan pola/perilaku ini mengalami derutinisasi (perulangan/rutinitas). Yang awalnya menggunakan internet satu bulan sekali, kemudian satu minggu sekali, kemudia sehari sekali, sampai tiap jam dan tiap detik. Dan sadar kita telah menjadi sebuah individu yang konsumtif dengan internet. Derutinisasi konsumsi internet yang berulang terus-menerus ini yang menyebabkan internet telah menjadi sebuah kebutuhan, bagian hidup, yang lebih sarkas adalah internet telah moksa dalam diri kita.
Sebab ini juga tidak luput dari sebuah modernisasi (yang sudah pernah saya tulis) dalam bentuk teknologi. Sebab menjadi akibat, sebab karena sebab. Sebuah perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari dari pengguna internet. Gadget smartphone. Adalah salah satu hasil sebuah perkembangan teknologi yang sekarang seolah telah menjadi “anak tiri” yang kita miliki.
Menawarkan sebuah kemudahan untuk sebuah kebutuhan. Sebuah ponsel yang tidak hanya bisa untuk telepon tapi juga bisa untuk menulis dokumen, bisa untuk mengedit foto dengan cepat, bisa untuk bermain game, bisa untuk berkirim email, bisa untuk menggambar, bisa untuk browsing. Seperti sebuah komputer mini yang dapat digengam.
Melalui iklan-iklan yang begitu masiv, smartphone menjadi “smart”, utuh, optimal dengan adanya sebuah koneksi berupa internet. Maka menyisihkan sebagian uang untuk membeli internet. Sudah menjadi kebutuhan bukan ? Menyisihkan uang untuk makan si “anak tiri”, menyisihkan uang untuk kelangsungan hidup sebagian dari diri kita.
Internet bisa menjadi “setan” atau “malaikat” yang selalu bersama kita. Dan kita adalah seorang individu yang dituntut untuk tidak hanya cerdas dalam berfikir, tapi juga dalam tindakan (menggunakan internet). Internet akan menjadi sebuah hal yang positif jika kita mengerti dan memahami penggunaan internet. Intenet bisa menjadi perpustakaan berjalan, internet bisa menjadi jendela dunia di masa modernisasi sebagai pengganti buku, internet bisa menjadi media hiburan jika digunakan secukupnya, internet bisa menjadi media penyambung tali silaturrahmi. Dengan demikian internet pun bisa menjadi “malaikat” di sisi kita.
Internet pun juga bisa menjadi “setan” di sisi kita jika kita kurang cermat, kurang cerdas dalam penggunaannya. Internet bisa menjadi bumerang untuk kita. Internet bisa menjadikan kita penjahat atau korban kejahatan. Sudah banyak bukan kasus penipuan, penculikan, pencabulan dan pembunuhan yang berawal dari penggunaan internet ?.
Kita adalah bangsa yang cerdas. Saya mendukung internet sehat untuk indonesia. Tulisan ini diikutkan lomba "Sehari tanpa Internet" guna mendukung pentingnya mengajarkan internet untuk pendidikan bersama Telkomsel. 

Jakarta, Pemerintahan dan Bisnis yang harus dipisah

Jakarta banjir. Sepertinya bencana tersebut sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat jakarta, begitu juga dengan masyarakat diluar jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan berita tersebut. “jakarta kan memang tiap tahun dilanda banjir”, begitu kalimat yang sering saya dengar baik dari teman di jakarta maupun teman di luar jakarta.
Jakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis. Semua tumpah ruah, mulai dari politikus, pedagang, artis, produsen, konsumen, tumpah seperti banjir yang rajin melanda tiap tahunnya. Dengan padatnya mobilitas yang ada di Jakarta juga berbanding lurus dengan kepadatan lalu lintas dan kepadatan penduduk. Orang awam pun tahu jika semakin banyak penduduk, maka (kemungkinan) semakin banyak pula pemukiman, dan semakin berkurang juga wilayah (tanah) resapan untuk air.
Sudah berapa “komandan” yang memimpin jakarta tapi masih juga belum bisa atasi banjir, “komandan” yang baru satu tahun, Jokowi dibuat “galau” oleh si banjir yang rajin. Sebatas kebodohan saya, saya berfikir (sepertinya) Jakarta sudah tak mampu lagi menangani berbagai macam masalah yang sudah “pengalaman” merusak Jakarta. Mulai dari banjir, macet, PKL, pemukiman kumuh, sampah kota, penegakan hukum, pengangguran.
Andaikan pulau jawa bisa bergerak, mungkin Pulau Jawa akan jomplang disisi Jakarta karena terlalu banyak permasalahan yang ada. Saat ini, apakah bapak Presiden RI masih tinggal di Jakarta?. Ya katakanlah ini masalah umum yang dihadapi hampir disemua wilayah di Indonesia, tapi Jakarta terlalu kompleks untuk sebuah permasalahan kota. Sampai ada wacana untuk memindahkan Ibu Kota Indonesia ke wilayah lain.
Saya kira ini akan sulit, secara politik dan bisnis seperti dua saudara yang sulit terpisahkan dari Jakarta. Pindah saja pusat perdagangan di Jakarta ke kota lain. Biarkan Jakarta menjadi pusat pemerintahan yang utuh. Biarkan Jakarta benar-benar menjadi Ibu dari sebuah Negara tanpa campur tangan bisnis.
Bisnis/perdagangan bisa dipindah di Jawa Timur, (misal) Surabaya. Surabaya dan sekitarnya banyak terdapat pabrik-pabrik produksi. Rungkut industri, pergudangan Margomulyo, ke selatan, Sidoarjo ada wilayah Lingkar Timur yang terdapat banyak pabrik dan pergudangan, sedikit ke barat ada Ngoro Industri. Bukankah Surabaya memang benar-benar kota perdagangan ?.
Bukankah Indonesia banyak mencetak ahli tata kota? Bukankah Indonesia banyak mencetak lulusan dari bidang Pembangunan? Bukankah Indonesia banyak mencetak lulusan Ahli Tanah? Bukankah masih banyak orang yang ahli di Indonesia ? Kenapa seolah masalah Jakarta saja tidak bisa terselesaikan sampai begitu hebo di media-media.
SDM kita masih kalah pintar dengan negara lain ? Bilang saja kalau kita dan atau kalian masih ragu dengan SDM dari Indonesia. Kita bisa membeli mobil penyapu sampah kota dengan harga 2,1 Milyard tapi belum tentu bisa merawat dan menjaganya.
Tulisan ini sebatas ketidak tahuan dan kebodohan saya, jadi mungkin terlalu cepat untuk sebuah kesimpulan. Saya berterima kasih untuk cacian atau hinaan pada tulisan saya. Terima kasih. Untuk Nuswantara.

TV, [bisa] menjadi media pembodohan

Tulisan ini bisa dikatakan masih berhubungan dengan dan atau masih berkelanjutan dengan tulisan sebelumnya [ini] dan [itu]. Sudah hampir tiga bulan aku sering menonton TV karena memang hampir setahun sebelum itu, TV hanya sebatas aku menonton acara berita pada jam-jam tertentu.
Dan faktanya dalam tiga bulan terakhir, aku lebih sering menghabiskan waktu di dua layar, yakni layar Komputer dan layar TV. Ini mungkin efek aku membeli TV baru karena TV sebelumnya rusak. Atau mungkin aku lebih sering mengawasi adikku yang masih kecil dalam menonton acara TV.
Sekarang modernisasi sudah mudah untuk dilihat dan dirasa, baik perkembangan teknologi TV maupun kualitas tayangan TV yang mulai bergerak menuju HD-TV juga Internet-TV. Ini berbanding lurus dengan acara program TV yang berlangsung juga yang akan datang.
Semakin bagus kualitas [barang/produk] TV yang dipunyai maka semakin besar juga peluang untuk menikmati acara program TV. Yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah acara-acara TV yang ditonton itu berkualitas, mendidik, mencerdaskan, bersifat informasi ?”
Faktanya dalam pandanganku, acara yang sifatnya hiburan [semata] yang berlebihan lebih diminati masyarakat; acara goyang tak jelas menjamur. Atau coba perhatikan saja, apa kabar acara Rangking 1 TransTv ? Apa kabar acara Hitam Putih Trans7 ? Apa kabar acara Jejak Petualang ?
Dulu program musik pagi hari sering menampilkan Budaya Indonesia baik dari bidang musik, tarian serta pengetahuan Budaya Indonesia dan sekarang apa kabar ?. Dulu lagi trend jamannya main tepung, semua ramai mainan tepung sekarang lagi trend goyang, ikutan ramai goyang. Ini pada alay, gak kreatif atau pengekor sih ?
Saya pikir kita adalah masyarakat yang cerdas, kita dapat memilih sebuah acara yang “butuh” dan atau “perlu” kita konsumsi. “Butuh” dalam batasan yang secukupnya sedang “Perlu” adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam batasan butuh.

TV layaknya sebuah kulkas. Ada banyak makanan (acara/program TV) yang tersedia di dalamnya. Kita adalah individu yang mempunyai kekuatan untuk membuka, memilih, mengambil atau menutup kembali kulkas/Tv tersebut.

CineUs ndamar komentar


“Meong … !!” reflek kucingku ketika tak sengaja kutendang saat merubah posisi kaki di atas kasur. Jam menunjukkan pukul 02.00 malam. Tak terasa buku CineUs telah selesai aku tonton. Buku ini aku beli 5 hari yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku membeli buku ini dihari kelahiranku, mungkin karena aku pernah bertemu si penulis meski hanya tak lebih dari 15 menit atau memang karena saat itu aku mendapat rezeki lebih.
Malam ini aku menghabiskan lebih dari setengah buku yang belum ku tonton, tak seperti malam sebelumnya yang ku tonton hanya satu chapter sebelum aku beranjak pulas. Buku ini membawaku ke masa sekolah yang sering bolos dan sering membaca cerpen dan novel, meski kegemaran baca cerpen dan novel hilang 2 tahun setelah aku lulus SMA dan tak mendapat restu orang tua untuk kuliah di jurusan sastra. Dan itu seperti hantu-hantu yang mengerikan jika diingat.
Buku ini sarat misteri seperti Rizki dimata Lena. Banyak plot yang terkadang mengocoh layar imajinasi pembaca. Mungkin salah satunya plot Dania yang diam-diam menyimpan foto-foto Dion. Juga kesalahan naskah yang memenangkan Lena di Film Festival Remaja, awalnya aku berfikir kalau Lena tak sadarkan diri menukar naskahnya setelah mengintip naskah Rizki, ternyata Dania tersangkanya. Begitu juga sikap Romi yang ternyata didalangi Adit, meski aku sendiri belum mengerti mengapa Romi harus menuruti Adit.
Dan entah mengapa, sejak awal aku melihat si penulis sebagai sosok Lena. Hhhmmmm,.. mungkin karena aku membaca biografi si penulis sebelum aku benar-benar menonton isi CineUs. Saat prolog karya ini pun sudah membawaku kangen masa SMA-ku, mungkin tak jauh beda dengan akhir cerita masa SMA-ku, mati-matian buat film dokumenter untuk mengenang kisah mbolos, kabur dari sekolah, nyontek ulangan, tidur di kelas, dihukum berjama'ah, kejar-kejaran dengan WakaSek karena dilarang bawa handycam, juga pemotongan durasi waktu pemutaran film dari 25 menit menjadi 15 menit yang harus ku edit semalaman sebelum acara perpisahan kelas XII.
Buku ini keren, benar-benar imajinatif, benar-benar serasa naik mesin waktu yang dibuat John Titor untuk kembali ke jaman yang labil, SMA. Pembawaan kalimat yang lebih bersahabat untuk masa kini juga untuk mereka yang pernah hidup di jaman jadul.
Meski sebenarnya banyak kalimat-kalimat yang (mungkin dikatakan) lebay untuk sebagian orang, tapi itulah sastra. Mulai dari kelinci gila meloncat-loncat, berenang menyeberangi Selat Sunda, lalu koprol sampai Hawai dan menari Hula tujuh hari tujuh malam. Ini seperti iklan TV yang (menurutku) gak nyambung dengan produknya (tahu kan?).
Dan, entah kenapa dibagian konflik perpecahan internal Club Film aku teringat film Catatan Akhir Sekolah (2005) yang menggunakan prolog pemutaran film pendek oleh Agni yang mengaku filmnya keren, tapi mungkin ini kebetulan.
Novel ini tak hanya cinta, tapi lebih pada dan dari sebuah harga persahabatan yang tak ternilai, jatuh bangun yang semakin menguatkan persahatan Lena, Dania dan Dion yang kemudian ditambah Rizki dan Ryan, meski ada persahabatan yang menjadi cinta, hehe. Emosi yang kompleks. Ini novel pertama yang kubaca setelah beberapa tahun yang lalu yang serasa tak punya waktu untuk cerpen atau novel. Novel yang berbobot.
“Di dunia ini ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Impian dan cinta”
“Bukankah orang sering kali bersikap tolol ketika berhadapan dengan perasaan?”

Google akan menguasai Dunia ?

Layar komputerku masih menyala seperti biasanya. Sambil mencengkram ubun-ubun aku mencoba meraih papan ketikku kembali. Kucengkram erat “tetikus” elektronik untuk kembali mencari sumber informasi proyek Tsu no Me Keikaku Google. Sampailah pada sebuah pencarian Google mengakuisisi militer.
Aku cengang untuk tiap kalimat serta artikel yang tersangkut.
“Apa benar Google adalah Akatsuki ?”
“Apa Google ingin menjadi Akatsuki?”,
“atau Google memang KelompokAkatsuki!”, pikiranku saling tanya.
Jika google telah menguasai robotmiliter maka nantinya juga akan lahir robot-robot yang lebih canggih dan banyak pastinya. “Apa mungkin robot ini sejenis Zetsu?”, mungkin akan lebih manakutkan jika google juga dapat menguasai pasukan Anubis. “Apa?”, tidak mungkin.
Media informasi sudah hampir semua dikuasi google, bukannkah informasi bisa dikatakan seperti awan yang bergerak kemana saja. Ini juga seperti lambang yang dimiliki Akatsuki yakni awan merah. Mungkin benar bahwa google adalah akatsuki, akatsuki menggunakan baju berlambang awan, begitu juga google yang berawal dari sebuah awan (baca : internet/informasi).
“Plakk...!”, aku memukul keras pipiku. Mungkin aku sedang dibawah Genjutsu, karena aku tak punya banyak cakra untuk bisa keluar dari Genjutsu.
Jika militer sudah dikuasai Google berarti Google siap untuk berperang? Jika benar, siapa yang diperangi google ? Apa benar google sedang menyempurnakan proyek Tsu no Me Keikaku untuk menguasai dunia?

Apa kalian sependapat denganku ? Tolong bangunkan aku dari Genjutsu!

Google adalah Akatsuki di dunia ini

Suatu waktu aku hanya memandang layar komputerku yang begitu terang di dalam kamarku yang tak berlampu. Lama sungguh kupandang, kemudian hening pecah oleh kepala yang gemuruh. Mungkin ini seperti conan edogawa saat mendapatkan petunjuk dalam penyelidikannya.
“Hai anak muda, sudah siapkan kau menghadapi Akatsuki ?”, bisik kepala kepadaku. Mataku menatap ke sebuah jendela kamar yang tertutup dan berkata “Apa yang akan dilakukan Akatsuki selanjutnya ?”. Mungkin akatsuki benar-benar merencanakan "Tsu no Me Keikaku" ?.
Ini bukanlah akatsuki yang dipimpin oleh Madara atau Tobi, lantas siapa akatsuki ini ?.
” Google adalah Akatsuki”, pikirku cepat. Google perlahan mengendalikan dunia dengan segala produknya. Mari kita telaah apa yang dikendalikan google dengan proyek “Tsu no Me Keikaku” nya.
Android, siapa yang tidak kenal android? Semua orang sudah kenal dan merasakannya, dan sebagain yang lain juga mengembangkannya. Mungkin ini salah satu “Genjutsu” yang dilancarkan google untuk lawan-lawannya. Hampir semua “ninja” mulai dari “klan” Samsung, Huawei, Sony, motorola, LG, Asus, Acer juga yang lainnya berbondong-bondong membuat “jasad” untuk dapat dihidupkan dengan “roh” Android.
Semua keranjingan “arwah” Andoid. Jam tangan juga TV pun sekarang mempunyai “nyawa” Android. Google membagi-bagikan kitab rahasia untuk membuat “arwah” Android. Siapa sasaran “Genjutsu” selanjutnya ? Iyalah para “shinobi” underdog yang menjadi developer. Google tak perlu merekrut karyawan untuk meramaikan playstore yang dilahirkannya. Google cukup memberi asupan gizi untuk para “shinobi” developer dengan hasil karya yang dibuatnya. Pelan tapi pasti, itulah langkah google dalam menggunakan “Genjutsu”.
Bagaimana akatsuki google dapat menganalisa semua korban-korbanya lebih lanjut ? Google membuat tempat penitipan umum, Google Drive. Untuk semua ninja silahkan menggunakan tempat ini sesuka hati dan sesuka kaki. Google Drive lebih murah dari Ponten Umum yang sekali masuk dikenakan tarif Rp. 2000, inilah alasan Google Drive lebih laris dari Toilet Umum. Kalian cukup mempunyai Id-Card dengan e-mail yang juga gratis dalam pembuatan.
Dengan begitu Google dengan mudah mencari segala sumber “rahasia” yang dimiliki tiap-tiap orang. Bisa jadi google juga berperan dalam penyadapan Negara Indonesia-Australia karena orang-orang pemerintahan Indonesia sudah terkena “Genjutsu” untuk meletakkan semua dokument negera di tempat penitipan umum yang dibuat google yakni google drive.
Jangan lupa google punya dua mata “Sharingan” yakni Youtube dan Maps. Akatsuki google dengan mudah melihat segala gerak-gerik lawan dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Kondisi ini juga didukung dengan “Sharingan” yang kedua yakni google maps. Google telah memetakan semua target operasinya dengan maps yang dimilikinya. “Jutsu” ini pun sudah berkembang dalam Google Street View.
Google telah mengirim agen-agennya hampir di semua negara untuk “penetrasi” lokasi dengan modus sandi operasi google street view. Google telah mempelajari kondisi alam, kondisi kota, kondisi desa, tata kota masing-masing negara. Bisa jadi google juga menyebarkan trojan di tiap-tiap negara yang mungkin nanti akan dibangkitkan dengan jutsu “Kisho tensei”.
Pada kenyataanya kita sedang dalam “Genjutsu” google. “eh cara bikin nasi gimana ?”, “buka google dong!!”. Hampir semua pertanyaan disampaikan di google dengan asumsi keyakinan mendapat jawaban dari google. Apa Google itu Tuhan? Apa proyek Tsu no Me Keikaku Google benar-benar terjadi?

Dan segala apa yang kita pertanyakan dan kita pikirkan telah diketahui Google. Google mempunyai “Zetsu” mesin pencari yang terkenal hebat itu. Mungkin tulisan ini juga akan ditertawakan google karena proyek Tsu no Me Keikaku Google sudah berjalan lama. Apa aku juga sedang dalam “Genjutsu”? Kemudian aku terdiam dengan memeras kepalaku erat-erat.

Iklan TV, Propaganda di Indonesia [bagian 3 - Habis]

Sampai pada halaman ketiga dari otak yang nyaring. Apa yang sebenarnya ingin aku tulis adalah sebuah pesan tersirat yang lewat. Pesan yang berbanding lurus dengan apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan.
Aku berfikir bahwa iklan-iklan propaganda tersebut memberikan doktrin yang kuat dengan begitu lembutnya. Iklan-iklan propaganda tersebut perlahan berhasil menanamkan nilai (doktrin) untuk kita-kita yang bodoh dan masih tidur. Bodoh bukan berarti kita tak pintar atau tidak bisa berfikir, melainkan bodoh sejatinya kita tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan.
Siapa yang turut menjadikan kita bodoh selain iklan-iklan propaganda ?. Ialah pendidikan yang juga menjadi media doktrin terkuat. Mari kita koreksi pendidikan yang telah kita jalani, sudahkah kita menerima pendidikan nilai luhur budi pekerti dan cinta tanah air selama pendidikan 9 tahun ? Jika pun pernah hanya sebatas materi tulis untuk sebuah nilai di lembar putih tanpa ada sebuah rasa memiliki pendidikan tersebut.
Pernah kita mendapat pendidikan wajib untuk budaya bangsa? Jujur saja hanya segelintir pendidikan formal yang menerapkan pendidikan wajib untuk budaya sisanya lebih fokus untuk pendidikan umum. Kembali ke topik. Dengan kurangnya rasa budi luhur dan cinta tanah air inilah awal sebuah doktrin iklan-iklan propaganda mudah kita serap dan kita yakini. Dan kemudian kita masih tidur dalam modernisasi yang mungkin kalau mau jujur bahwa kita belum siap dengan itu.
Kita telah di doktrin bahwa, kalau kulit tidak putih maka tidak cantik dan tampan. Kita telah berfikir bahwa tipe orang putih adalah sebuah kesempurnaan akan kecantaikan atau pun ketampanan yang akhirnya kita menjadi rendah diri memiliki kulit sawo matang. Kemudian banyak dari kita berbondong-bondong menjadi putih dengan pemutih. Mengapa kita tak berfikir mengapa (banyak) orang Eropa ingin kulit hitam/sawo matang dengan budaya suka berjemur di pantai.

Dan kemudian akan menjadi hulu bahwa kita akan lebih bangga jika menggunakan produk luar negeri. Disinilah muara cinta tanah air mulai luntur perlahan dan perlahan dengan atau tanpa kita sadari. Semoga kita selalu bisa menyikapi propaganda ini dengan bijak. Mari bangun dari tidur Indonesiaku

Iklan TV, Propagan tersebesar di Indonesia [bagian 2]

Tulisan ini lanjutan dari post "Iklan Tv, Propaganda terbesar di Indonesia [bagian 1]" yang tetap dengan tema yang sama. Saat ini aku ingin mengupas tentang iklan propaganda yang selanjutnya. Iklan apa itu ? Iklan pemutih ketiak.
Kita pasti sudah tahu produk apa saja untuk memutihkan ketiak kalian tanpa perlu aku sebut merk. Yang aku amati mengapa dari banyak produk dan atau iklan pemutih ketiak itu mayoritas untuk perempuan ?. Untuk para kaum adam hanya sesekali atau bahkan jarang sekali ditanyangkan. Apa ketiak hanya punya perempuan ?. "Ah pria kan lebih macho kalo ketiak banyak bulunya!", kalau kalian mau jujur, bulu ketiak itu sungguh tidaklah nyaman dan terlihat tidak rapi, cenderung sebagai kambing hitam atas bau badan yang kurang sedap.
Silahkan tanya teman pria kalian, apakah nyaman dengan bulu ketiak ?. Aku yakin itu tidaklah nyaman. Tapi ada hal lain yang perlu diperhatikan juga dari iklan pemutih ketiak yang sering ditanyangkan di TV. Mayoritas iklan pemutih ketiak menggunakan model perempuan, dan perempuannya itu selalu berkulit putih bercahaya (efek camera, mungkin.red) seperti yang sudah aku tulis post yang lalu.
Dan coba perhatikan sekali, dua kali dan tiga kali atau lebih. Model iklan pemutih ketiak selalu menggunakan pakaian dibawah pundak dan atau pakaian semi tanktop. Dan ada juga yang menggunakan pakaian menutupi pundak yang robek karena tersangkut sesuatu, dengan pedenya kain bagian pundak dilepas/dirobek hanya untuk memperlihatkan ketiaknya yang putih. 
Mungkin iklan pamer ketiak tidak berpengaruh besar untuk wanita-wanita yang mengerti etika kesopanan, tapi mari kita lihat konsumen TV yang paling banyak. Ya! konsumen TV paling banyak adalah para remaja yang masih labil. Masa remaja inilah yang menjadi korban propaganda iklan. Masa remaja yang labil adalah masa yang paling mudah untuk diberikan suatu pandangan hidup, masa dimana pondasi-pondasi didirikan. Kalau diibaratkan sawah, masa remaja labil adalah sawah subur yang telah dibajak dan siap untuk ditanami.
Efek yang paling parah dari iklan propaganda tersebut adalah di masa depan saat remaja ini menjadi dewasa, mereka akan dengan mudah mengumbar ketiaknya dimana-mana tanpa peduli dengan etika kesopanan yang dimiliki Indonesia. Bisa saja mereka akan berdalih bahwa ini jaman modern tak masalah buka-buka ketiak di depan umum. 
Akhirnya remaja-remaja Indonesia tak dapat membedakan modernisasi dan atau westernisasi. Indonesia sedang diserang tidak secara fisik, melainkan Indonesia diserang secara mindset dan atau pola pikir yang menghilangkan hakikat Indonesia itu sendiri. Jasmerah!

Post Sebelumnya   ------------------------------------------------------------------------------    Post Selanjutnya

Iklan TV, Propaganda terbesar di Indonesia [bagian 1]

Propaganda! Aku, kamu, kalian, kita semua telah masuk dalam sebuah propaganda yang (mungkin) tidak disadari. Silahkan koreksi sendiri! Apa propaganda tersebut ? Ayo kita kupas perlahan.
Pertama, kita koreksi diri seberapa intens menatap TV, kenapa TV ? Ya! Ini adalah media informasi yang paling mudah dan murah untuk dikonsumsi.
Sekarang silahkan perhatikan iklan sabun pemutih dan atau pemutih kulit sejenisnya. Apa yang  kalian perhatikan ? Anggap saja itu sebuah film, perhatikan pemain utamanya!. Apa yang kalian dapat ? Ya! Itu dia, semua pemain utamanya (perempuan) bermula dengan kulit (maaf) coklat atau dapat dikatakan sawo matang yang warna kulit sawo matang adalah warna kulit (mayoritas) warga Indonesia.
Kemudian setelah menggunakan sabun dan atau pemutih kulit sejenisnya maka pemain utamanya terlihat cantik dengan kulit putih (bercahaya). Sebagian iklan yang lain menambahkan pemain pendukung pria yang terpesona, ada yang sampai saling tabrak melihat wanita dengan kulit putih bercahaya. “bukankah ini wajar ?”, silahkan beranggapan seperti itu.
Nyatanya adalah iklan-iklan tersebut dan sejenisnya telah membuat propaganda dan merusak pola pikir kita dengan atau tanpa disadari. Kenapa aku bisa berkata demikian ? Silahkan lihat dilapangan bahwa produk pemutih kulit laris manis, tidak hanya di toko-toko, mall, pedagan kaki lima, sosmed menawarkan pemutih kulit.
Propaganda yang terjadi adalah wanita cantik itu berkulit putih dan setiap pria menyukai wanita yang berkulit putih. Secara tidak langsung ini adalah diskriminasi untuk mereka-mereka (wanita) berkulit cokelat atau sawo matang (tidak putih bercahaya). Banyak wanita berlomba-lomba untuk memutihkan kulitnya agar terlihat cantik dimata pria dan teman wanita lainnya.
Di Indonesia mayoritas penduduk berkulit sawo matang dan hanya sebagian kecil yang berkulit putih. Mengapa iklan sabun dan atau pemutih kulit selalu menggunakan model perempuan dengan kulit putih bercahaya (efek camera, mungkin) ? Kemudian secara implisit menyampaikan pesan bahwa wanita cantik adalah wanita yang berkulit putih, maka gunakanlah produk kami untuk menjadi wanita cantik.
Menyedihkan untuk kalian para wanita yang telah beranggapan seperti itu, belum pernah baca majalah kecantikan di Eropa ? Majalah dan atau katalog kecantikan di Eropa tidak melulu menggunakan model dengan berkulit putih untuk produknya, mereka juga menggunakan model wanita yang berkulit cokelat (lebih hitam/cokelat dari kulit sawo matang orang Indonesia). Silahkan searching produk kecantikan yang sudah ternama dan buka dengan regional selain Inggris dan Indonesia.
Saya pikir cantik bukanlah dari warna kulit semata melainkan dari hati dan perbuatan karena kita adalah orang Indonesia yang mempunyai nilai budi pekerti yang luhur.


Buang sampah sembarangan, salah siapa ?

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah sekolah tingkat dasar (TK). Sebenarnya hanya kebetulan saja karena saudara saya seorang pengajar di sekolah itu. Ini membuat saya serasa kembali pada zaman kecil saat saya sekolah TK.
Disana diajarkan sebuah nilai dasar kebaikan, "kalau membuang sampah harus pada tempat..... nya", ingatku. Juga di sekolah itu, tak jauh berbeda dengan nilai dasar kebaikan yang di ajarkan. Tak hanya sekedar dalam kalimat, murid-murid yang polos itu juga diberikan contoh untuk membuang sampah di tempat sampah yang disediakan.
Dalam keseharian di sekolah jika ada murid yang membuang sampah sembarangan guru selalu mengingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Ini tak jauh berbeda dengan masa kecilku.
Bagaimana dengan kalian , kita, kalian yang mengalami masa kecil seperti itu dan hidup di masa kini ?. Apakah masih tersisah nilai dasar kebaikan masa kecil saat ini?.
Ini adalah pertanyaan yang cukup risau dipikiranku. Saya sering naik gunung, traveling dalam kota juga luar kota. Sampah seperti sebuah 'hiasan' disetiap perjalan saya, sampah seperti sebuah pemandangan yang biasa disetiap kota.
Saat ini tak hanya kota-kota besar yang menyediakan tempat sampah tapi kota yang sedang berkembang juga tak ingin kalah untuk menjadikan kotanya bersih dan asri. Tapi kenyataan yang ada? silahkan anda amati sendiri.
Tempat sampah sudah disediakan tapi mengapa masih saja ada sampah berserakan bahkan didekat tempat. Apa yang sebenarnya menjadi masalah ?. Saya tak mendapat jawaban pasti dari pertanyaan itu sendiri, namun setelah saya amati disetiap tempat saya mendapat kesimpulan.
Penyebabnya adalah sebuah kebiasaan yang secara tidak langsung diwariskan turun temurun. Kenyataannya hampir disetiap tempat umum ada orang dewasa dan anak-anak. Anak-anak sudah dididik dalam sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya, sedang banyak dari (kita) orang yang sudah dewasa, yang sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk dengan mudahnya membuang sampah tidak pada tempatnya.
Kebiasaan ini secara tidak langsung akan ditiru anak-anak yang melihatnya. Dan yang saya tau, anak-anak lebih mudah belajar dari apa yang dilihat dan didengar. Jika anak-anak sering melihat orang yang lebih tua membuang sampah sembarangan dengan mudah anak-anak pun beranggapan “oh, tidak apa-apa buang sampah disana, disini, sama saja” atau juga bisa “oh, orang dewasa buang sampah sembarang tidak apa-apa, berarti tidak ada masalah” atau juga bisa “yang dewasa saja buang sampah sembarangan”.
Anak-anak adalah pribadi yang masih labil, perlu diberikan sebuah pondasi kebaikan untuk bekal dewasa nanti. Anak-anak cenderung meniru dari yang dilihat.
Kesimpulannya adalah jika anak-anak sering melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan, besar kemungkinan hal tersebut akan mudah ditiru dikemudian hari ataupun nanti saat dewasa. Anak-anak ini juga yang akan menjadi contoh (saat dewasa) untuk anak-anak generasi berikutnya.

Apakah kita sudah memberikan contoh yang baik untuk anak-anak di sekitar kita ????

Negeri Loh Jinawi

Siapa yang tak kenal negeriku. Negeri yang kaya akan hasil bumi, Negeri yang subur makmur loh jinawi
hahaha...

oh ... itu benar!
Dunia mengakui itu. Sekarang, coba lihat padaku, Apa menurutmu ?

Aku orang Indonesia yang pastinya juga turut menikmati kekayaan negeriku. Bukan malah ikut miskin lantaran menanggung dosa penghianat bangsaku.

huuuuuuhhh ... 
Siapa kamu, berani - berani-beraninya menjual hasil bumiku. 
Siapa kamu, berani-beraninya menikmati hasil korupsimu sendiri, sedang aku hanya bisa melihat ngiris pasirku masuk gudang tetangga, hanya bisa mencium anyir lumpur busuk tiada mengering, hanya bisa mendengar gunung-gunung berpenyakit, disini batuk disana muntah.
yaaa ... terlalu!!

Nasib ... nasib ...


- Negeri Loh Jinawi -

Deret Sepi


- Deret Sepi -

Dan senyum itu pecah, disambut jingga. Juga nafas membeku seolah insaf, menjadi abadi di sudut gubuk tua. Kantuk meretakkan alfa, juga senyummu, menikam sendu.

Biru memutih, dalam jingga di ujung barat, raja tenggelam, berkarat pelan dalam kubangan semesta, aku buta, pernah. Kulihat jingga mesrah bersama bidadari senja, berselimut doa, kaukah itu?. Pada akhirnya jingga menelan awan. Seperti deretan doa yang ku dendang bersama senja, kusampaikan rindu terma'tsurat 

Tak ada kata dalam gerimis lirih, hanya tetesan sepi tak bertepi. Tepi penuh dengan sepi, penuh dengan derita, bagaimana dengan kasih, tak seharuanya memunggungi sunyi. Langit menjerit, sakit, jingga menusuk di ujung barat, masa dimana kau buat mataku terbelanga, diawal senja. Jumpa pecah dalam air mata, jerit meraba asa, laci-laci doa mengangah, tak biasa. Dan kesunyian tenggelam dalam pekat hitam, menabur bercak ditiap telapak, suir-suir alfa menggantung bersama jelaga 

Bulan berbisik tentang malam dan bintang; kasih merayu bersama takik rindu, membunyi sendu, puan tak tahu. Bulan nyalang di sela kayu-kayu beranting, mengapa senyum memega sedang aku setapak buta. Langit muram, bulan temaran, kalimat berubah, bagaimana dengan getar, tumpah?. 

Burung bercerita tentang fajar yang menendang malam; bagaimana dengan takik-takik rindu yang ditelan subuh. Ayam-ayam berisik, bulan pergi begitu lirih, apakah pagi dipatriarki mentari, tersisah sepi semalam.

Aku, Cemburu Cinta


- Aku, Cemburu Cinta -

Aku adalah lafadz-lafadz lama, sedang kamu adalah arti;
bagaimana dengan singgasana tak bertahta
Aku adalah lafadz-lafadz lama, sedang kamu adalah arti,
bukankah semestinya satu
Aku sampan bidar, mendebur bersama angin, akan seperti ombak,
bergulung tak bertuan tanpa kau tiup torempetmu

Cemburuh adalah berbagi rasa,
juga darah meninggalkan jejak pada bilik kiri juga kanan,
untuk tetap bergetar
Cemburu adalah senja,
saat terang berebut dengan malam,
dan sepi tetap menelan satu atau dua
Cemburu adalah flu,
datang dengan api meninggalkan asap


cinta adalah kematian tersimpan,
sakit meringgit, langit, terpendam seduh sedan
cinta adalah bara sedang kayu begitu ringkih,
tak mau hilang bentuk, aku - meski membatu

Annisa

- Annisa -

Aku pelacur, melacurkan rindu pada larik, tercekik
Rindu ialah embun pagi kehilangan mentari
Masing-masing semangat mengembik bersama, sepertinya pagi lupa
cerita sepi semalan
Parasmu semakin pudar, menjauh bersama kabut, 
sedang mataku menyeruak luas, seperti embun meninggalkan talas
Cinta tak berlarik; cinta adalah hasrat yang mengembik
Cinta bukan kata, buta; cinta adalah kecupan tersisah
Cinta bukan puisi, tuli; cinta adalah dekapan jemari

Tak peduli masa, rindupun berjatuhan 
mendekap lampion kota dimana pijar berjelaga selalu
Mengapa kau usik mimpi,
kamu adalah rankaian mimpi yang bergemuruh
Dalam sepi,sunyi mengernyit,  berpadu,
kamu adalah secangkir kopi yang membunuh rindu
Dalam sepi,deret larik adalah pelipur,
kamu adalah secangkir kopi yang meluluhkan bibir
Senja mendengkur pelan, tertinggal dalam tetesan hujan
rindu masih berembun di tiap aspal,
dimakan jalan

Siang membakar garam, keringat merayap bercucuran,
juga temu, melebur rindu pada masa
Sudah seminggu kutitipkan rindu pada jibril,
mengapa culumbus tak jua membekas kecupmu, 
aku masih di meja tua

Tak lagi ku jamah larik biner, dimana kulacurkan logika,
bait nafas begitu jenuh di laci auramu
kasih kebiri rindu, 
saat wajah tanggalkan senyum di sudut jantung tak berdetak

mata (masih) sembab


Saat aku ingin tersesat, hanya untuk mengantar jenuh pada tapak-tapak kaki yang mengering perlahan. Dan akan ku hujani sepi dengan deret aksara tak bertuan, sembab mulut sampai juga.

Jangan paksa air mata menemani sepi. Cangkir kopi pun surut dalam lumatan huruf, leduk bersama embun. Pagi, mendung semakin perih tersayat gerimis, ngilu mengalir bersama fajar. Secangkir kopi semakin surut dilumat kalimat pekat, tersirat. Jangkrik menertawakan hidupmu, langit tak bergeming, bintang turut dengan kerlipnya, ah!

- mata sembab -

Mendung 11 Juni

Air mata itu membeku pada bibir yang dingin, lantunan ayat sayonara yang tersimpan di laci-laci usang pada akhirnya mengantar keikhlasan. Benderapun tak penuh di ujung tiang. Untuk pria cengeng, basahi sapu tanganmu karena yang datang untuk kembali, sejatinya. Dan langit juga mengabarkan,seperti pada bintang yang bersinar terang. Tak hanya sekumpulan wajah, burung-burung, mentari serta sinarnya mengantarmu pada lubang keabadian. Semua orang butuh tempat ini untuk berkumpul bersama. Selamat bertemu Allah wanita tua.


- mendung 11 Juni -

Sering dibaca